DIY Siap Gelar Simposium Internasional JAI dan Festival Adat

DIY
DIY Siap Gelar Simposium Internasional JAI dan Festival Adat

Terkini.id, Yogyakarta –  “Kalau berbicara budaya, itu pasti soal rasa. Kalau rasa sudah dilenggahkan, hal lain tak lagi dipersoalkan,” ujar Wakil Gubernur DIY, KGPAA Paku Alam X.

Hal tersebut disampaikan saat Wakil Gubernur DIY menerima audiensi Panitia Simposium Internasional Jurnal Antropologi Indonesia (JAI) dan Festival Adat di Gedhong Pare Anom, Senin, 15 Juli 2019.

Adapun rombongan dipimpin oleh Prof. Dr. Paschalis Maria Laksono, selaku steering committee dan Guru Besar Antropologi Fakultas Ilmu Budaya (FIB) UGM. Laksono menjelaskan bahwa tema besar dalam gelaran simposium  tersebut adalah tentang semangat ke-Bhinnekaan.

Laksono menuturkan, simposium ini merupakan acara reguler yang diselenggarakan oleh Jurnal Antropologi Indonesia, sebuah jurnal yang diterbitkan oleh Departemen Antropologi Universitas Indonesia sejak 1969.

Pelaksanaan simposium tahun ini akan dilaksanakan bersama denganDepartemen Antropologi UGM dengan mengangkat tema besar “The Use And Abuse of Diversity: Anthropological Responses To The Threat of Disintegration.”

Pelaksanaan simposium sendiri akan dipusatkan di Aula Lantai 7 Gedung FIB UGM dan ditargetkan sebanyak 250 orang panelis akan berpartisipasi.

Turut hadir bersama dengan Laksono, Dr. Bambang Hudayana, MA., Kepala Departemen Antropologi FIB UGM. Bambang menjelaskan, Tema ke-Bhinnekaan dipilih karena sarat dengan apa yang tengah dilakukan oleh Jogja sebagai Daerah Istimewa dalam hal merawat ke-Bhinnekaan sesuai dengan semangat 4 K: Kantor, Kampus, Kampung, dan Keraton. Jogja bisa menjadi contoh kepada daerah lain akan hal itu.

“Adapun untuk unsur kampung, kami akan libatkan pegiat yang tergabung dalam Festival Lima Gunung yang akan berbagi semangat bagaimana merawat diversitas mereka,” tukas Laksono.

Bersamaan dengan agenda simposium yang akan dilaksanakan pada 23-26 Juli ini juga akan digelar festival dan pameran budaya.

”Festival itu lebih kepada ekspresi seni, sedangkan pameran, kami mengajak pemerintah melalui masyarakat adatnya untuk dapat berpartisipasi. Pun juga para LSM yang pernah terlibat dalam hal ke-Bhinnekaan juga kami undang,” jelasnya.

“Pelaksanaan festival budaya ini akan digelar di lantai bawah baik outdoor maupun indoor. Siapapun bisa datang ke festival dan pameran ini, terbuka untuk umum,” ujarnya.

Rencananya, akan digelar pula festival bakmi Jawa sebagai salah satu rangkaian acara. Menurut Bambang, Bakmi Jawa dianggap sebagai sebuah produk masyakarat dan dapat menjadi salah satu simbol Jogja. Bakmi Jawa juga dapat mempererat keakraban, melambangkan guyub.

Dalam kesempatan tersebut, Sri Paduka menyampaikan dukungan dan apresiasinya akan rencana gelaran simposium tersebut.

“Saya rasa ini sangat bagus, saya sangat mendukung adanya kegiatan ini karena bisa digunakan sebagai sarana pembelajaran dan sebagai salah satu perwujudan nguri-uri kabudayan,” ujar Sri Paduka.

Di sisi lain, Sri Paduka berharap bahwa di masa yang akan datang, FIB UGM dapat lebih membumi dengan memaksimalkan peran sebagai akademisi.

“Menjadi akademisi itu kan juga prestis, kebanggaan, namun juga tentunya sebagai beban, harus bisa mengaplikasikan ilmunya untuk masyarakat,” ujar Sri Paduka.

Beberapa speaker yang akan hadir dalam simposium ini antara lain Prof. Leontine E. Visser (Wageningen University), Prof. Webb Keane, Prof. Irwan Abdullah, Prof. Anna Tsing dan Prof. Nurul Ilmi Idrus, serta Prof. Syed Farid Alatas.

Para akademisi ahli Indonesia dan Asia Tenggara ini diharapkan dapat memberikan sumbangsih akademis yang sejalan dengan tema besar simposium internasional ini.

Berita Terkait
Komentar
Terkini